Dalam dunia seni, kebaruan adalah kesegaran. Jadi ketika muncul seorang seniman yang mampu menghadirkan sesuatu yang baru, biasanya publik akan mengapresiasi. Sebagai sebuah tontonan melewatkan waktu senggang, Republik Mimpi The Movie: Capres (Calo Presiden) cukup mampu menyajikan kebaruan itu.
Di tengah belantara film-film nasional yang kuyup dengan percintaan remaja, komedi jorok, dan pertunjukan hantu, Capres ibarat sebuah oase di padang tandus. Paparan tematiknya soal dunia politik dan pemilu presiden membuatnya menjadi sebuah tontonan yang tidak biasa.
Capres berkisah soal penokohan seorang Hartono (Dwi Sasono) dari officeboy dan staf administrasi menjadi Ketua Umum Partai ASU (Anggaran Semuanya Untukmu) dan akhirnya capres partai tersebut. Ia diceritakan berpacaran dengan Ningsih (Happy Salma), staf rendahan di kantor yang sama.
Sosok Hartono dipilih oleh tiga orang pengurus utama Partai ASU, yang memprediksi dirinya akan mampu menjadi pemimpin besar. Ayahnya (dimainkan Butet Kertarajasa dengan aksen Pak Harto) adalah salah satu pendiri Partai ASU, dan selalu menasihati Hartono kecil tentang semua aspek untuk menjadi pemimpin yang dihormati.
Maka Hartono pun segera di-makeover agar layak ditokohkan. Gigi tonggosnya dihapus. Tampang culunnya dipermak. Dan bahkan pacar pun disuruh ganti. Ia harus meninggalkan Ningsih dan beralih ke Prita (Catherine Wilson), sekretaris cantik yang selalu tampil sexy dan menggoda.
Sayang Hartono langsung merasa tak betah berada di panggung politik, karena tak cocok dengan semua kekejian yang ada di sekelilingnya. Dalam puncak keputusasaan, ia meminta bantuan dua orang konsultan politik kondang, yaitu Effendi Ghazali dan Ucup Kelik. Dari mereka ia belajar tentang teknik penampilan dan sekaligus etika berpolitik sehingga bisa muncul sebagai politikus yang cerdas dan santun.
Capres dibesut oleh sutradara Toto Hoedi, dengan ide cerita dikerjakan oleh Effendi Ghazali. Mirip acara Republik Mimpi, film ini juga berusaha menghadirkan keseriusan dunia politik dalam nuansa satir dan semi-parodi yang komedik. Hadir cukup banyak aktor dan aktris impresionis yang memainkan tiruan Megawati, Antasari Azhar, dan bahkan Syeh Puji dengan baik.
Patut pula diacungi jempol “lobi politik” Effendi yang sanggup menghadirkan para tokoh besar sebagai cameo. Anda akan terkejut campur geli menyaksikan penampilan Abdurrahman Wahid, Jusuf Kalla, Andi Mallarangeng, Yusril Ihza Mahendra, dan juga Hotman Paris serta Ilham Bintang dalam film ini.
Tak hanya sekadar muncul sekelebatan, mereka pun masuk dalam kerangka cerita. Salah satu contoh adalah ketika JK mendoakan Effendi, Hartono, dan Ucup agar cepat sembuh setelah ketiga tokoh itu terlibat dalam kecelakaan maut yang membuat mobil mewah (tapi bekas!) yang mereka tumpangi mencelat dan terbalik.
Sindiran Tajam
Sayang karena terlalu berhasrat untuk menjadi sebuah tontonan yang penuh satir, Capres pun akhirnya pasrah saja hadir sebagai suatu sajian yang tidak serius. Nama parpol, Partai ASU, pasti dimaksudkan sebagai sindiran tajam terhadap dunia politik kita masa kini. Tapi ini jelas tak logis karena hampir mustahil bakal lahir parpol dengan penamaan semacam ini di negara kita.
Dan di luar elemen karikaturalnya (yang membolehkannya tampil dengan semangat main-main), Capres gagal menyajikan tontonan yang meyakinkan. Selain kekurangan dialog yang menukik dan bernas, film ini juga terjebak dalam alur cerita yang datar dan tak menggigit.
Tak ada alasan empirik yang jelas mengapa Hartono yang culun dan tonggos terpilih sebagai ketum dan kemudian capres. Mungkin karena ia lugu dan gampang disetir, namun semua orang tahu, proses pencapresan seseorang pastilah tak segampang mencari kandidat Ketua OSIS atau Ketua RT.
Di samping itu, untuk apa pula seorang Hartono bersikeras mencari kembaran dirinya agar layak menjadi pemimpin? Dan ketika telah dilantik sebagai PresidenRI periode 2014-2019, Dwi Sasono pun tak mampu menghadirkan karakter Hartono sebagai seorang pemimpin besar yang kharismatik.
Ia membaca teks pidato di istana seperti anak SD disuruh gurunya membaca buku pelajaran. Matanya tak pernah meninggalkan teks untuk memandang audiens. Dan dengan isi teks pidato yang datar dan penuh kalimat-kalimat “generik” tentang patriotisme, cukup mengherankan mengapa rakyat yang mendengarnya sampai menangis tersedu. Barangkali karena mereka berulang kali harus mendengarkan kalimat yang sama terus-menerus!
Pada akhirnya, setelah kembali menyadari bahwa ini hanyalah versi film dari acara Republik Mimpi, penonton pun tak bisa dituntut untuk menanggapinya secara serius. Semua kejanggalan yang ada bisa dianggap sebagai bagian dari satir dan sindiran tajam yang ingin dihadirkan oleh Effendi, Ucup, Denny Chandra, serta Megakarti.
Dan kita pun terpaksa harus mau mengikuti logika berpikir yang disajikan acara-acara parodi politik semacam Republik Mimpi, yakni yang penting lucu.
(** out of *****) Saat menyaksikan sebuah film, penonton dibawa memasuki sebuah dunia logika tertentu. Beda genre dan beda cerita, sudah tentu akan memunculkan “sistem” susunan logika yang berbeda pula. Karena itu, ketika konstruksi yang telah terbentuk sejak awal tahu-tahu membelok dengan luar biasa mendadak, penonton pasti akan terkejut sehingga kehilangan pegangan dan “keimanan” terhadap struktur itu tadi. Pesan dari Surga arahan sutradara Sekar Ayu Asmara menikung luar biasa tajam sehingga rasanya kita seperti tak sedang menonton film, melainkan tengah naik roller coaster mematikan dalam Final Destination 3. Sedemikian tajam belokan itu membuat keseluruhan alur cerita dan logika yang tersusun sejak main title menjadi seakan kehilangan makna. Film dibuka dengan adegan konser sebuah band beraliran pop rock yang bernama Topeng. Mereka tersusun atas anak-anak muda dengan nama-nama yang kebetulan aneh semua, yaitu Canting (Luna Maya), Brazil (Catherine Wilson), Kuta (Lukman Sardi), Prana (Vino G Bastian), dan Veruska (Rianti Cartwright). Topeng memiliki sebuah tradisi yang amat unik. Tiap kali sebelum manggung, mereka saling berpelukan untuk menceritakan kisah (cinta) masing-masing. Dari situ kita tahu bahwa tiap personel Topeng menjalani kehidupan percintaan yang sama-sama rumit dan memusingkan. Canting berkencan dengan seorang pemuda yang mengelola Tiara, sebuah LSM yang bergerak di bidang pencarian anak hilang. Pada masa lalu, sebelum bertemu Canting, ia ternyata pernah menjalin hubungan yang berbuah kelahiran seorang anak. Belum lama berselang, si anak tiba-tiba hilang saat mereka menonton sirkus. Brazil memendam dendam terhadap laki-laki. Karena kisah kelam pada masa silam, ia bertekad akan gonta-ganti pacar sampai 100 kali. Tapi pada hitungan ke-24 dan 25, ia kena batunya ketika mengencani pasangan remaja kembar dalam saat yang bersamaan. Kuta, pemain band yang juga merangkap kerja menjadi seniman tato, menyimpan kelainan orientasi seksual. Ia berpacaran dengan seorang pria yang telah beristri. Yang lebih buruk lagi, isteri si pria tersebut tengah hamil tua dan mencurigai suaminya ada main dengan perempuan lain. Prana telah menikah dan tengah mengharapkan kelahiran seorang anak laki-laki yang ia harap suatu saat kelak akan menjadi pilot. Tapi di luar sepengetahuan isterinya, ia ternyata menjalin hubungan dengan perempuan lain hingga ke jenjang pernikahan dan poligami. Dan yang terakhir, Veruska hamil gara-gara hubungannya dengan kekasihnya. Ia kemudian positif dinyatakan terkena HIV. Tapi siksaan terberat yang harus diterimanya adalah mendengar guyonan-guyonan tak lucu beraroma religi yang dilontarkan dokter kandungannya. Saat problema kian memuncak dan hampir-hampir tak terselesaikan, kelimanya kemudian terlibat dalam kecelakaan lalu lintas saat berangkat ke gedung tempat Topeng akan mengadakan konser live. Dan saat itulah kita sebagai penonton sampai pada bagian belokan yang menyakitkan tersebut. Sesaat setelah kecelakaan terjadi, kita tiba-tiba melihat mereka telah menjadi arwah, yang melihat penasaran saat badan masing-masing diselamatkan penduduk. Kuta berkata bahwa mereka semua telah mati, dan Canting membantahnya dengan mengatakan bahwa, jika mereka memang telah mati, mengapa mereka tetap bisa saling mengobrol? Ternyata, tak semua harus kembali ke surga (atau neraka, tak seorangpun tahu!), kecuali Canting. Ia hanya koma, dan ditakdirkan untuk hidup. Tapi sebagai “bonus” bahwa ia pernah mengalami pengalaman mendekati kematian alias NDE (near death experience), ia akhirnya menjadi penyampai pesan keempat rekannya yang telah tiada kepada pasangan masing-masing. Apa yang paling mengagetkan dari Pesan dari Surga adalah belokan di titik itu, sebab sejak awal, film ini tak menunjukkan kondisi apapun sebagai sebuah film fantasi-mistis tentang dunia afterlife (kematian) lengkap dengan sosok-sosok arwah yang tak yakin bahwa mereka benar-benar sudah mati. Hingga 90% durasi, Pesan dari Surga hanya berupa drama komedi biasa tentang cinta, perselingkuhan, dan seks bebas. Sehingga, ketika mendadak mereka berlima tiba-tiba menjadi arwah, kita pun dipaksa untuk merekonstruksi ulang pemahaman kita tentang sistem logika seperti apakah yang sebenarnya tengah dipakai Sekar. Kita tahu, tiap genre dan cerita dalam film datang dengan sistematika logika masing-masing. Kehadiran UFO dalam sebuah film drama keluarga akan menjadi sangat tak masuk akal, namun jika makhluk serupa hadir dalam sebuah film fiksi ilmiah, penonton tak akan protes, karena “semesta” logika kedua jenis cerita itu juga sama sekali berlainan. Karena itu, ketika sebuah film drama komedi tahu-tahu diakhiri dengan gambaran para arwah yang meninggalkan dunia menuju akhirat, kita pun berasa seperti menyaksikan serial Bajaj Bajuri yang diakhiri dengan fakta bahwa Bajuri dan Oneng adalah makhluk dari planet lain yang tengah mengamati kehidupan Bumi dengan menyamar menjadi sopir bajaj dan pengelola salon kecantikan! Di luar itu, garapan Sekar Ayu Asmara, penulis lagu yang juga “membelok” menjadi sineas itu, sebenarnya tak terlalu mengecewakan. Ia bahkan sanggup keluar dari Kota Jakarta sebagai setting tempat dan memilih lokasi lain yang cukup mengesankan, yaitu Yogyakarta. Sayang unsur-unsur lokal Jogja termasuk Gunung Merapi yang mengepulkan asap tak dimanfaatkan sebagai pendukung bangunan cerita, bahkan disinggung pun tidak. Selebihnya, elemen yang dipakai tetap saja berbau Jakarta, seperti pemakaian kata ganti “lo” dan “gue” yang tempo hari sempat diprotes oleh Slamet Rahardjo. Selain itu, kembali terdapat beberapa materi yang jelas-jelas dibawa mentah-mentah dari film-film Hollywood. Salah satunya adalah adegan Arman (Dimas Seto Wardhana), yang langsung berpakaian dan pergi tanpa perlu mandi dulu sesudah bangun pagi dari acara tidur bersama Canting. Adegan itu sekilas mungkin terlihat keren. Tapi bayangkan apa yang terjadi jika kita semua langsung berangkat ke kantor begitu bangun tanpa mandi. Atau barangkali, Arman terinspirasi Mr Bean untuk mandi, gosok gigi, dan berpakaian di dalam mobil sepanjang perjalanan ke kantor! Pesan dari Surga sesungguhnya bisa menjadi sebuah tontonan yang kuat seandainya tetap berpegang teguh dan “membumi” saja pada persoalan cinta yang dramatik plus komedik dari kelima personel Topeng. Bahwa mereka berlima masing-masing mendapat jatah cerita yang penting sebenarnya sudah menunjukkan bahwa cerita dan skenario yang juga dikerjakan Sekar tak menyisakan satu tokoh pun yang mondar-mandir tanpa guna dalam keseluruhan struktur ceritanya. Sayang ketika mereka berlima mendadak menjadi arwah, Pesan dari Surga pun seperti pecah menjadi dua film yang sama sekali berbeda. Seperti menonton Bridget Jones’ Diary yang dipungkasi dengan ending dari The Sixth Sense atau Ghost…
(Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 24 Desember 2006)
(*** out of *****) Ada dua sebab yang bisa membuat sebuah film layak mendapatkan pujian tersendiri. Pertama, pencapaian kualitas sinemateknya, termasuk akting para pemain. Dan kedua, spirit serta “niat baik” yang melatarbelakangi pembuatannya. Denias: Senandung di Atas Awan berhak masuk kategori yang kedua. Sebab, menyaksikan satu judul film yang tak semata-mata berjualan kegemerlapan dan kemewahan Kota Jakarta adalah sebuah kenyamanan tersendiri. Setidaknya, sebagai warga negara Indonesia, kita sadar kembali bahwa negara kita tak hanya seluas peta DKI Jakarta. Masih ada Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan, sebagaimana kata salah seorang murid dalam film ini, “Pulau Bromo”! Denias mengambil setting lokasi yang sangat tidak lazim. Tak hanya keluar dari Ibukota, film ini juga keluar dari Jawa dan menuju satu tempat jauh di timur sana yang hampir-hampir tak pernah “masuk” film apalagi sinetron: Papua. Film ini mengikuti perjalanan dan petualangan seorang anak biasa dari suku Hony, Denias (Albert Fakdawer). Ia punya hobi berburu kuskus, takut suatu saat akan ditelan gunung, dan memiliki obsesi yang pasti akan membuat anak-anak seusianya di Jakarta melongo heran, yaitu sekolah! Betul. Bagi Denias, bisa bersekolah dan memakai seragam putih-merah adalah sama monumental dengan impian kita menang kuis Rp 3 miliar atau lolos audisi Indonesian Idol. Sayang satu-satunya bangunan yang bisa disebut sekolah di desa Denias adalah sebuah bangunan reot tak berdinding dan rawan rubuh bila gempa datang. Impian Denias makin menguap ketika Pak Guru (Mathias Muchus) pulang ke Jawa karena isterinya sakit parah. Tugas sebagai guru darurat kemudian diambil alih seorang anggota TNI bernama Sersan Mayor Hartawan (Ari Sihasale) yang oleh penduduk setempat biasa dipanggil Maleo. Maleo bilang, di kota ada satu sekolah fasilitas yang amat bagus dan lengkap. Sayang jarak ke sana jauh, dan anak Papua biasa seperti Denias mungkin tak akan diperbolehkan memasuki sekolah itu. Serentetan tragedi kemudian mengubah jalan hidup Denias. Mamanya (Audrey Papilaya) tewas dalam insiden kebakaran honai, sekolahnya benar-benar rubuh oleh gempa berkekuatan 5,8 skala Richter, dan Maleo pergi karena memenuhi panggilan tugas sebagai anggota Kopassus. Merasa tak memiliki harapan lagi tinggal di kampungnya, ia lantas minggat dan menuju kota untuk satu impian sederhana: bisa sekolah. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, Denias sampai di kota. Di sana ia bertemu dengan Enos (Manos Karibu), gelandangan putus sekolah yang luntang-lantung di jalanan kota dengan menjadi pencuri. Berkat Enos, Denias bisa mendekati lokasi sekolah fasilitas seperti yang dikatakan Maleo. Di sana, kepolosan (dan juga ketampanan) Denias menarik perhatian Ibu Guru Sam (Marcella Zalianty) dan Angel (Pevita Eileen Pearce), gadis tercantik di sekolah. Melalui keduanyalah Denias berjuang untuk dapat mewujudkan impian terbesarnya untuk bersekolah dan mengenakan seragam putih-merah. Denias: Senandung di Atas Awan dibesut oleh sutradara spesialis sinetron, John De Rantau. Sebelumnya John dikenal saat menggarap serial Ali Topan Anak Jalanan dan Dara Manisku. Studio produksinya sendiri adalah Alenia Productions, rumah produksi baru milik pasangan suami isteri Ari Sihasale dan Nia Sihasale Zulkarnaen. Yang membuat Denias menarik sekali lagi adalah semangat yang dibawanya. Tak seperti film-film lain yang hanya menyuguhkan tema “tanpa guna” macam cinta roman usang, sex & love serba bebas ala metropolitan, atau hantu yang tidak jelas ujung pangkalnya, Denias mengingatkan kembali bahwa perjuangan, persahabatan, dan sekolah masihlah tetap penting. Tengok adegan saat Denias menangis terharu sesudah menerima pemberian seragam sekolah dari Maleo. Atau saat Enos berlarian pulang ke kampungnya yang berjarak, bukan kilometer tapi “sekian hari perjalanan”, hanya untuk mengambil buku rapor agar ia bisa kembali bersekolah. Kapan terakhir kali kita melihat gambaran perjuangan yang setulus itu di layar lebar dan layar kaca kita? Yap, memang belum pernah. Kedua jenis layar kita itu selama ini hanya dipenuhi sosok figur-figur warga Ibukota yang tak jelas memperjuangkan dan menggapai impian apa. Sayang Denias terjebak dalam kebiasaan baru film kita masa kini, yaitu dengan semena-mena mendeklarasikan diri sebagai film yang diangkat (atau terinspirasi) kejadian nyata. Konsekuensi dari pernyataan itu adalah, sebuah film harus dengan gamblang menunjukkan tempat dan waktu saat peristiwa yang dipaparkannya terjadi. Denias tidak memberi penjelasan itu. Tak ada penunjuk waktu (tanggal, bulan, tahun) saat film ini dimulai dan lokasi yang lebih eksak ketimbang hanya “Desa Denias” atau “kota”. Padahal film ini diangkat dari kehidupan nyata Janias, anak Papua pedalaman yang bisa sekolah dan kini tengah kuliah di Australia. Selain itu, sebagaimana umumnya kebiasaan film Indonesia lain, tak ada ruang untuk membuat tiap tokoh berdiri sendiri-sendiri sebagai karakter yang unik dan “berguna”. Kita tak tahu siapa itu sebenarnya Pak Guru, Maleo, Bu Sam, Angel, Noel si bandel, atau Enos. Mereka hanya sekadar alat untuk mengiringi perjalanan sang tokoh utama. Selebihnya, mereka statis saja seperti patung dan tinggal “melaksanakan” tugas masing-masing, lalu hilang dan tak pernah dibahas lagi kecuali pada denoument (tulisan di akhir film yang menerangkan peristiwa terkini yang tengah dijalani semua tokoh). Selain itu banyak unsur yang tak tergarap maksimal. Petualangan Denias saat berjalan menjelajahi hutan, gunung, dan sungai untuk menuju kota hanya dibeberkan setengah hati. Padahal bagian itu bisa sangat menggigit jika dipaparkan secara detail dan agak panjang sebagaimana dalam, katakanlah misalnya, Homeward Bound. Tapi di atas itu semua, meski masih banyak bolong di sana-sini, Denias adalah sebuah tontonan yang spesial karena menggugah. Tak setiap hari kita menyaksikan sebuah film tempat orang rela melakukan dan mengorbankan apa saja hanya agar dapat memakai seragam, berdiri tegak saat upacara bendera, dan menghormat serta menyanyikan lagu Indonesia Raya sepenuh hati, bukan hanya sekadar kewajiban mingguan yang berat dan membosankan. Denias: Senandung di Atas Awan pun mirip seorang anak kecil yang belum lancar mengendarai sepeda roda tiga tapi sudah bulat bercita-cita untuk menjadi pembalap jika besar nanti. Untuk keteguhan seperti itu, kita layak mengacungkan jempol. Bukan hanya satu, tapi dua…
(* out of *****) Apa yang akan Anda lakukan jika Anda adalah seorang pria berusia 35 tahun yang dicintai seorang bocah perempuan usia 11 tahun? Atau sebaliknya, apa yang akan Anda lakukan jika Anda adalah anak perempuan usia 11 tahun yang jatuh cinta pada seorang pria dewasa berusia 35 tahun? Semua pasti sepakat jika ini merupakan sebuah ambilan tema yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Dan sutradara Widy Wijaya dengan cemerlang mengangkat topik ini lewat filmnya yang berjudul I Love You, Om… Masalahnya, cemerlang yang seperti apa? Baik, mari kita teliti bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya! Film dibuka dengan kecerewetan Astari (Ira Wibowo) yang mengatur-atur Dion (Rachel Amanda), anak gadisnya, saat sarapan. Astari sibuk menentukan jadwal harian Dion antara main piano, latihan baseball, dan balet, namun terlalu sibuk sehingga tidak pernah punya waktu untuk memperhatikan anak perempuannya itu. Karena kurang kasih sayang, ditambah telah kehilangan Dad yang meninggal saat ia masih berusia 5 tahun, Dion pun mencari sumber kasih sayang lain. Dan sumber itu ia temukan berada pada diri Gaza (Restu Sinaga), pria lajang berumur pertengahan 30-an yang bekerja untuk ibunya sebagai tukang laundry. Dengan cepat ia menjadi akrab dengan Gaza. Ia bingung ketika Gaza keluar dari pekerjaannya sebagai tukang laundry. Untung kemudian pertemuan kebetulan dengan Gaza membawanya kembali dekat dengan pria itu yang telah pindah kerja sebagai penjaga sebuah kios rental DVD. Di luar dugaan, kedekatan itu ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di hati Dion. Sang Om yang baik hati pun berubah dari teman main yang menyenangkan menjadi sebuah kisah cinta yang menggetarkan. Dan Dion cemburu habis-habisan ketika melihat Gaza pergi berduaan dengan Nayla (Karenina). Secara tematik, I Love You, Om… adalah sebuah suguhan yang baru dan menggugah. Banyak elemen menarik tersimpan dalam sebuah jalinan cinta antara dua insan yang berbeda usia sampai 24 tahun (mengingatkan kita pada Catherine Zeta-Jones dan Michael Douglas, bukan?). Daya tarik lain muncul dari power akting yang ditunjukkan bintang cilik Rachel Amanda. Dengan gesture, bahasa tubuh, dan permainan mimik muka yang sedemikian hidup, kita semua patut heran dan mempertanyakan mengapa baru sekarang ia “diperbolehkan” untuk menjadi aktris utama sebuah film. Rachel dengan telak mampu menghabisi permainan akting semua lawan mainnya di sini. Jangankan Restu Sinaga dan Karenina yang bermain canggung macam latihan drama anak-anak SMP, pamor aktris senior Ira Wibowo pun tak tertolong lagi meredup karena Rachel (plus Teuku As’Sadiq yang bermain sebagai Dafi) mampu mencuri perhatian dalam setiap scene tempat ia hadir. Sayang semua nilai lebih dan daya tarik ini dirusak sendiri oleh "kecemerlangan" yang ditunjukkan oleh Widy Wijaya dan Aviv Elham sebagai penulis skenario. Ya, keduanya cemerlang dalam hal menyia-nyiakan sebuah materi bagus yang berpotensi menjadi tontonan berbobot. Mereka seperti koki yang diberi kaviar tapi malah mengolahnya menjadi umpan pancing! Apa yang menarik dari I Love You, Om… adalah premisnya. Kisah tentang gadis kecil yang jatuh cinta pada pria dewasa adalah sama menarik dengan cerita tentang gadis cilik sok tua dan perempuan dewasa kekanak-kanakan sebagaimana yang hadir dalam Uptown Girls arahan sutradara Boaz Yakin. Cerita-cerita seperti ini akan jadi sebuah kisah yang menarik jika permasalahan yang muncul ditinjau dari sudut pandang karakter masing-masing tokoh serta efek yang kemudian berlangsung. Dari angle Gaza yang kaget saat mengetahui ia dicintai seorang gadis cilik, dari angle Dion yang bingung kala menyadari ia jatuh cinta pada seorang pria yang lebih pas menjadi ayahnya, dan terutama dari angle Astari yang panik ketika melihat siapa yang selama ini telah membuat anak tunggalnya menjadi melankolis. Namun bukannya melihat problematika dari sudut itu, Widy dan Aviv justru memotretnya dengan kacamata normatif plus imbuhan bumbu soal paedofilia. Bahwa percintaan antara Dion dengan Gaza adalah tabu dan terlarang sehingga darinya akan dapat diletuskan menjadi ledakan-ledakan emosi yang dramatis dan spektakuler. Ini jelas bukan pilihan garapan tematik yang brilian. Percintaan antara Catherine Zeta-Jones dan Michael Douglas memang akan terasa tabu saat Catherine baru berumur 7 atau 8 tahun. Untungnya, mereka bertemu saat Catherine telah berusia akhir 20-an, sehingga kalau masih ada orang yang berpendapat hubungan mereka terlarang, orang malang bersangkutan harus secepatnya diinapkan ke institusi rehabilitasi mental! Jika Dion dan Gaza adalah sama-sama entitas cerdas dari dunia nyata dan mereka benar-benar berniat memperjuangkan cinta mereka, maka mereka hanya perlu menunggu antara lima hingga enam tahun sehingga semua takkan jadi kontroversial lagi. Permasalahan pun tak perlu diselesaikan dengan perpisahan dan tokoh yang “dipaksa” mati tertabrak mobil. Ups…! Ada yang mati lagi? Yap, mirip dengan Rachel (Nirina Zubir) yang tewas tak jelas dalam Heart, I Love You, Om… juga membunuh salah satu karakternya dengan peristiwa tabrakan dan dialog yang wajib diucapkan setiap dokter dalam film Indonesia, yaitu “Kami sudah berusaha, tapi…”! Jati diri siapa tokoh yang meninggal tersebut tentu saja tak perlu diungkap di dalam kesempatan ini agar tak mengurangi kenyamanan Anda dalam menonton! Gangguan lain yang muncul adalah begitu berlimpahnya film ini dengan unsur-unsur yang useless dan tak perlu. Kisah tentang Nayla yang masih sibuk mengejar-ngejar Gaza masih penting dihadirkan karena menambah seru jalinan cinta segi tiga nan aneh yang terbentuk antara mereka berdua dan Dion. Tapi subplot tentang Nayla yang pacaran sesama jenis dengan guru balet Dion, Nayla yang membunuh fotografernya dengan hantaman kamera, dan Nayla yang bingung karena hamil di luar nikah, menjadi sia-sia karena berkesan asal tempel dan, yang lebih buruk lagi, tidak terselesaikan dengan klimaks serta solusi yang memadai. Selain itu terasa janggal mencermati plot dan premis yang sangat kental bernuansa komedi romantis namun akhirnya justru kembali ke “khittah” menjadi sebuah melodrama konvensional yang penuh adegan tangis emosional. Pada akhirnya I Love You, Om… memang mirip kisah cinta seorang gadis cilik dengan pria dewasa yang berusia dua dekade lebih senior. Hanya saja, si gadis belakangan mengetahui bahwa sang pujaan hati ternyata punya banyak organ tubuh yang tak berguna, seperti ekor, tanduk, gading, dan suara mengembik… (Dimuat di Suara Merdeka, 10 September 2006)
(** out of *****) Berapa dua tambah dua? Empat? Yap, itu jawaban yang paling logis secara ilmiah dan dapat dibuktikan kebenarannya secara empirik pula. Namun dalam dunia perfilman Indonesia, dua tambah dua bisa jadi satu, lima, delapan, atau dua setengah terserah penulis skenario. Sudah menjadi rahasia umum bahwa film (dan juga sinetron) kita kerap menampilkan aspek-aspek yang tidak logis dan seolah memiliki standar “hukum alam” tersendiri. Itu terjadi sejak bangunan plot, alur cerita, hingga karakterisasi. Fenomena serupa terkandung dalam Mendadak Dangdut, film terbaru besutan sutradara populer Rudi Soedjarwo. Mendadak Dangdut berkisah tentang penyanyi pop generasi MTV yang tengah naik daun, Petris Pontoh (Titi Kamal). Petris yang judes, tak ramah, antidangdut, tidak sensitif, dan pemarah dimanajeri oleh kakaknya sendiri, Yulia Pontoh (Kinaryosih). Berkebalikan dari adiknya, Yulia berwatak halus dan nrima. Hubungan mereka selama ini, baik personal maupun profesional, tak terasa macam hubungan adik-kakak yang mesra dan harmonis, tapi lebih berkesan mirip hubungan antara majikan dan pembantu dengan Yulia selalu berada di pihak yang kalahan. Hidup keduanya berubah ketika suatu malam, sepulang mereka dari wawancara promo album baru Petris di sebuah stasiun radio swasta, mobil mereka nyasar dan terjaring razia narkoba yang digelar polisi. Bersama mereka adalah Gerry (Vincent “Clubeighties”), kekasih Yulia. Dan bersama Gerry adalah sebuah tas besar yang berisi lima kilogram heroin. Gerry berhasil melarikan diri dalam razia itu. Akibatnya, Petris dan Yuliah lah yang jadi korban. Mereka ditangkap atas tuduhan kepemilikan 5 kg heroin tersebut. Karena takut akan dihukum mati, mereka nekat melarikan diri lewat jendela toilet yang terbuka lebar saat Yulia membantu Petris yang mengalami “kebocoran” haid di sebuah toko. Dalam kondisi menjadi buronan aparat, Yulia lantas menemukan tempat persembunyian yang cemerlang untuk adiknya, yaitu menjadi penyanyi dangdut orkes organ tunggal Senandung Citayam milik Rizal Saleh Alkatiri (Dwi Sasono). Kebetulan Rizal baru saja ditinggal pergi penyanyi lamanya gara-gara pertikaian soal besaran honor. Berbekal kemampuannya sebagai penyanyi, Petris pun menggantikan tempat Fetty Manis Madu sebagai penyanyi orkes Senandung Citayam dengan nama panggung Iis Maduma. Yulia masih tetap bertindak sebagai “manajer”. Dan tanpa setahu Petris, Yulia ternyata menaruh hati terhadap Rizal. Episode persembunyian dengan menyaru menjadi penyanyi dangdut berubah jadi kawah candradimuka yang membenahi kepribadian Petris. Ia yang antidangdut harus menelan bulat-bulat keangkuhannya sendiri untuk belajar teknik menyanyi dangdut. Ia juga harus meninggalkan kehidupan mewahnya sebagai seleb untuk tinggal di kawasan kumuh plus bergaul dengan anak kampung seperti Mamat (Sakurta Ginting) yang tak punya kerjaan lain selain mengomentari susu milik mpok-mpok yang pernah dikenalnya termasuk Petris! Pada akhirnya, dangdut mengubah watak Petris menjadi lebih dewasa, lebih peduli pada sesama, dan lebih sensitif. Ia sampai terpanggil untuk menggelar konser amal guna mengumpulkan dana untuk acara sunat Mamat. Untuk pertama kalinya pula, ia juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap nasib TKW di Arab Saudi. Setelah menelurkan Ada Apa dengan Cinta? empat tahun lalu, Rudi Soedjarwo dianggap sebagai salah satu sineas papan atas Indonesia. Dari segi teknis sinematografi, kemampuannya tak pernah diragukan baik oleh penonton maupun para pakar perfilman. Problemnya yang paling utama berada pada keputusannya untuk membesut skrip semacam karya Monty Tiwa ini ke layar lebar. Memang apa yang salah dengan skenario buatan Monty? Semuanya! Monty “sukses” menyusun sebuah cerita yang sama sekali tak menggunakan logika dan realita yang kita kenal dalam kehidupan keseharian kita sebagai pijakan. Oke, mari kita bayangkan Anda menjadi buronan polisi dalam kasus kepemilikan narkoba. Lalu teman Anda mengusulkan, agar aman dan tersembunyi dari kejaran polisi, Anda harus menyaru menjadi penyanyi dangdut. Briliankah ide itu? Bagi Monty, jawabannya adalah “Ya”, karena jika suatu saat ia menjadi buronan aparat sebagaimana Petris dan Yulia, ia mungkin akan bersembunyi dengan cara menyamar menjadi presenter Superdeal 2 Milyar menggantikan Nico Siahaan! Selain itu, seperti karya Rudi sebelumnya, 9 Naga, Mendadak Dangdut juga mengandung logic hole (lubang logika) yang sangat parah. Sebab, sebodoh-bodoh para fans dangdut, takkanlah mungkin mereka sama sekali tak mengenali Dewi Sandra atau Shanty yang bersembunyi dari buruan polisi dengan cara menyamar menjadi penyanyi dangdut yang kerap tampil di depan puluhan penonton. Monty mencoba memperkuat argumennya soal situasi itu lewat kalimat Yulia pada Petris yang mengatakan, “Nggak semua orang di Indonesia nonton MTV”. Betul MTV hanya disaksikan sebagian kecil masyarakat kita, tapi semua orang di Indonesia jelas menonton tayangan infotainment yang hadir lima kali sehari dan tempo hari baru saja kena dua kali fatwa haram! Bahwa Petris dan Yulia bisa aman bersembunyi dan selama berminggu-minggu tetap tak dikenali publik mengindikasikan bahwa di dunia mereka tak ada infotainment atau tabloid gosip. Dan kalaupun ada, isinya mungkin tak pernah bisa dipahami publik karena diwartakan dalam bahasa planet lain. Tabloid pun mungkin hanya dicetak sebanyak empat atau lima eksemplar, sehingga sesudah Petris memborong semuanya dari sebuah lapak koran, berita pelariannya tetap aman tersimpan dan sama sekali tak terbaca orang! Dengan tetapan logika seabsurd itu, akting secemerlang apapun yang ditunjukkan Titi Kamal, Kinaryosih, Dwi Sasono, dan Sakurta Ginting menjadi tak punya arti apapun. Pencapaian sinematek sehebat apapun yang dihasilkan Rudi lewat film ini pun juga menjadi sia-sia tanpa guna. Sebenarnya ini amat sangat disayangkan, karena Mendadak Dangdut masuk dalam kategori langka film Indonesia tempat karakter-karakternya mengalami perkembangan. Gara-gara dangdut, Petris yang arogan menjelma menjadi lembut dan dewasa. Sayang kelangkaan yang positif itu terjadi di sebuah dunia rekaan yang absurd, sehingga penonton juga kesulitan untuk menerimanya secara logis. Mendadak Dangdut pun menjadi nila setitik yang merusak susu sebelanga milik Rudi Soedjarwo. Kali lain, ia mungkin memerlukan bantuan seorang penasihat intelektual untuk memilih skrip mana yang pantas dan yang tidak pantas dilayarperakkan. Di dunia nyata, skrip Monty Tiwa akan langsung masuk tempat sampah editor production house. Untung bagi dia, perfilman nasional sudah agak lama tidak lagi hidup di dunia nyata! (Dimuat di Suara Merdeka, 13 Agustus 2006)
(* out of *****) Anda pernah menyaksikan Airplane, Naked Gun, dan Scary Movie yang semua disekuelkan karena sangat laris? Jika ya, berarti Anda pernah menyimak sebuah judul film yang sepanjang durasinya melulu berisi banyolan main-main. Namun meski hanya berisi banyolan, judul-judul tersebut sebenarnya sangat serius sebagai sebuah karya sinema. Semua memiliki kerangka struktur yang jelas dan terancang dengan rapi. Karakterisasinya, plot ceritanya, skenarionya, dan deretan banyolan yang ada di dalamnya dibangun dengan sangat sistematis dan serius, sehingga efek kelucuan pun dapat digulirkan secara maksimal kepada penonton. Gotcha!, film terbaru garapan sutradara Pingkan Utari (Me vs High Heels), mencoba meniru format tersebut. Berangkat dengan resep warisan Aneka Ria Srimulat, di mana nuansa horor dimasak dengan aroma komedi, Gotcha! dimaksudkan sebagai sebuah tontonan misteri yang, selain mengundang jerit ngeri, juga mendatangkan tawa lepas. karena muatan banyolan yang ada di dalamnya. Nah, masalahnya, sebagaimana Scary Movie yang merupakan sesama film horor-komedi, berhasilkan Gotcha! menjalankan misinya menjadi sebuah karya sinema yang menyeramkan dan sekaligus menggelitik? Hadir sebagai tokoh utama adalah pelajar SMA Bonafid yang bernama Rangga (Arie K Untung). Dia digambarkan sebagai remaja tengil yang gemar mengintip kegiatan gurunya di toilet dan membuat kerajinan tangan berupa bola kenyal dari upil hidungnya! Rangga dikisahkan naksir sahabatnya sendiri, Kayla (Kirana Larasati). Kebiasaan iseng Rangga membawanya ke gudang misterius di belakang kompleks sekolah yang sudah lima tahun terbengkalai dan dikabarkan berhantu. Suatu malam ia nekat menyelinap ke sana diikuti Kayla beserta tiga anggota geng mereka, yaitu Radit (Fikri Ramdhan), Bogi (Herichan), dan Anno (Maya Septhia). Di gudang tersebut mereka akhirnya benar-benar bertemu dengan makhluk halus. Tak hanya satu, namun empat sekaligus. Mereka adalah hantu tukang kebun bernama Indro (Hendrik Beta), hantu pengurus kantin bernama Oneng (Mpok Ati), hantu satpam bernama Kusnadi (Indra Brasco), dan hantu cantik bernama Luna (Stephanie). Keberanian Rangga dkk memasuki tempat wingit itu menyebabkan para hantu penghuninya terlepas bebas. Tanpa kenal waktu, baik malam maupun siang, mereka mulai meneror kehidupan Rangga, Radit, Bogi, Kayla, dan Anno sampai-sampai Radit merasa perlu membagikan fotokopi buku Cara Jitu Mengusir Hantu kepada keempat temannya. Belakangan terbongkar fakta bahwa keempat hantu tersebut adalah para korban pembunuhan massal yang dilakukan oleh pacar Luna. Awalnya mereka dikubur di dalam gudang, dan meski jenazah-jenazah mereka telah ditemukan serta telah dimakamkan secara layak, arwah mereka masih tetap gentayangan di tempat mereka terbunuh. Kembali kepada persoalan film yang meski berisi banyolan tapi digarap secara serius, Gotcha! sayang sekali "gagal dengan gemilang" untuk menjadi film yang demikian. Penyebabnya, tak ada satupun unsur keseriusan di dalamnya, sehingga keseluruhan film pun terasa seperti sebuah banyolan tanpa guna bernilai miliaran rupiah! Banyolan sudah dimulai sejak dari alasan yang membawa Rangga cs memasuki gudang angker. Apa alasan mereka memasuki tempat itu? Sama sekali tak ada, kecuali sekadar keisengan khas anak muda. Keisengan jelas bukan trigger yang ampuh untuk memulai sebuah plot, seberapapun remehnya plot tersebut. Beri alasan yang kuat mengapa Rangga harus masuk ke sana, baru kita bisa menganggap semua konsekuensi yang mereka terima masuk akal dan wajar terjadi. Jika hanya sekadar keisengan, semua akan tampak seperti main-main belaka, karena takkan pernah ada satupun manusia di dunia ini yang sengaja memakai baju hijau pupus di pantai selatan Pulau Jawa hanya karena iseng! Banyolan kedua berada pada karakterisasinya. Sebagian besar tokoh dalam Gotcha! tak bermanfaat karena tak memiliki fungsi apapun dalam struktur plotnya. Selain keempat hantu, praktis hanya Rangga, Kayla, dan pacar Kayla (Hessel Steven) saja yang benar-benar fungsional. Di luar itu, karakter-karakter lain hanya sibuk berlarian dikejar hantu siang dan malam tanpa maksud dan dasar yang jelas. Ada juga tokoh kepala sekolah dan Bu Guru Nunik (Dewi Astri) yang diletakkan hanya dalam kaitan dengan lelucon Rangga soal tato dan anak kambing namun juga tak mempunyai kedudukan pasti dalam keseluruhan alur cerita. Dan bayangkan sebuah tempat yang memicu kegemparan karena ditemukan empat mayat korban pembunuhan terkubur di dalamnya. Adakah satu saja makhluk hidup berintelegensia di dunia ini yang lantas menutup tempat itu, melarang siapapun masuk ke dalamnya, dan membiarkannya mangkrak menjadi tempat berhantu? Rasanya tak akan pernah ada. Jika peristiwa tersebut terjadi di dunia nyata, Depdiknas pasti akan langsung memerintahkan pengurus SMA Bonafid untuk membongkar atau mengalihfungsikan bangunan itu, yang mana akan dengan seketika membuat keseluruhan rangkaian cerita Gotcha! tak akan pernah eksis! Namun lelucon terbesar film ini berada pada proses kasting kedua bintang utamanya. Dapat wingit dari mana sehingga Pingkan Utari “tega” mengkasting Arie dan Fikri (keduanya sama-sama mantan VJ MTV Indonesia) sebagai pelajar SMA? Apakah negara kita telah benar-benar kehabisan bibit aktor baru berbakat? Ketiga cast member lain, yaitu Kirana, Maya, dan Herichan, masih memiliki tampang remaja. Tapi Arie dan Fikri sungguh-sungguh menghadirkan efek yang sama dengan yang disuguhkan Paundrakarana saat bermain sebagai Galih dalam Gita Cinta dari SMA versi sinetron: mirip mahasiswa pascasarjana yang tengah mengalami depresi mental berkepanjangan sehingga berkeliaran ke mana-mana memakai seragam SMA! Pada tahun 1985, sutradara Jeff Kanew pernah menelurkan sebuah film remaja berjudul sama, yaitu Gotcha!. Dibintangi Anthony Edwards dan Linda Fiorentino, film laga-misteri itu bertutur tentang sebuah permainan bernama Gotcha!, di mana para mahasiswa saling memburu satu sama lain dan “membunuh” semua lawan dengan senapan berpeluru cat (permainan serupa kemudian dinamai paintball). Kini, 21 tahun kemudian, seluruh cast dan crew film Gotcha! versi Indonesia pantas dimasukkan ke dalam permainan tersebut sebagai sasaran buruan, tapi dengan peluru sungguhan! (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 23 Juli 2006)
(** out of *****) Sebuah film dibuat untuk memberi kita potret tentang kehidupan kita sendiri. Seperti cermin, film memperlihatkan pada kita apa yang selalu terbawa dalam hidup sehari-hari namun tak pernah kita lihat secara langsung, yaitu rupa kita sendiri. Namun ketika potret itu hanya tinggal sebatas potret yang bisu, kita pun jadi capek karena hanya sekadar menonton tapi tak mendapatkan layanan lebih jauh dalam bentuk apapun. Film terbaru keluaran Indika Entertainment setelah Ekskul, Cewe Matrepolis, memberi kita contoh gamblang ketika sebuah film kehilangan morale of the story-nya. Materi yang dihadirkan hanya muncul sebatas fenomena, tapi tak diolah hingga menjadi sesuatu yang menggugah, memberi inspirasi, atau membuat kita menyadari rupa wajah kita sendiri. Cewe Matrepolis dibesut oleh sutradara Effi Zen, satu lagi nama asing dari dunia antah berantah yang tiba-tiba saja, mak jegagik seperti kata orang Jawa, bisa duduk di kursi penyutradaraan. Tak ada yang tahu siapa dia, mendengar namanya, mengetahui latar belakang dan kualifikasi ilmu sinematografinya, atau curriculum vitae-nya di dunia perfilman. Kecuali Effi Zen adalah nama samaran seorang sineas yang sudah punya jam terbang lumayan, dia betul-betul semisterius hantu pembunuh dalam film Lentera Merah! Sebanyak empat tokoh utama disajikan oleh Effi. Mereka semua berjenis kelamin perempuan, mahasiswi, dan sama-sama berasal dari golongan elit warga DKI Jakarta. Ada yang galak dan anticowok bernama Kay (Nita Ferlina), yang matre dan gonta-ganti cowok bernama Cecille (Amalya Sutarmaza), yang lugu dan mendewakan film Titanic bernama Salma (Indah Pelapory), dan yang gemuk bernama Donna (Emmie Lemu). Cewe Matrepolis menelusuri perjalanan cinta gadis-gadis itu secara paralel. Kay yang menjadi cewek galak karena berusaha menyembunyikan latar belakangnya sebagai perempuan simpanan. Ia kemudian jatuh cinta dengan Ben, saudara sepupu Donna. Di pihak lain, Cecille shock ketika mengetahui kekasihnya, Raul, ternyata sudah beristeri. Ia kemudian pacaran dengan Kiki yang jauh lebih muda. Peristiwa yang nyaris sama dialami Salma. Ia mendedikasikan cinta sejatinya pada Joe, namun kemudian mengetahui Joe ternyata kumpul kebo dengan seorang perempuan aneh berwajah kebarat-baratan bernama Sandra. Berdasarkan press release dari Indika Entertainment yang sejak jauh-jauh hari bertebaran di internet, Cewe Matrepolis adalah pengejawantahan fenomena pergaulan terbaru gadis-gadis muda metropolitan masa kini. Demi memperbaiki nasib, mereka menikah hanya karena uang, bukan karena cinta. Film ini juga menghadirkan empat icon pergaulan bebas era abad ke-21, yaitu money, love, sex, dan party. Keempat icon tersebut hadir melalui keempat tokoh utama. Cecille untuk money, Salma untuk love, Kay untuk sex, dan Donna untuk party. Lantas apa hasilnya? Pedih untuk mengatakannya, tapi sama sekali memang tidak ada. Effi hanya mampu menampilkan fenomena, tapi terlupa untuk memberinya garis bawah. Ia tidak mampu memaknai Cewe Matrepolis untuk membuatnya tak hanya sebatas barang tontonan, tapi juga cermin yang merefleksi atau cambuk yang melecut. Kisah cinta Kay dan kawan-kawan mengalir lepas begitu saja, tapi tak ada sesuatupun yang terjadi pada diri masing-masing dari mereka. Gadis-gadis itu tak mengalami evolusi kepribadian yang membuat penonton bisa berguru, tak pula mereka memberi kita sentakan yang menyadarkan kita pada apa yang selama ini ada namun selalu terlepas dari perhatian. Tahu-tahu saja, sebelum semua fenomena itu menjadi pelajaran, baik bagi mereka berempat maupun kita para penonton, durasi film berakhir hanya karena ada satu tokoh yang (terpaksa) meninggal. Sebagaimana jatidiri hantu pembunuh dalam Lentera Merah, identitas tokoh yang akhirnya dikubur ini juga kami biarkan menjadi misteri agar tidak mengurangi kenyamanan Anda dalam menonton! Namun bahwa salah satu dari keempat tokoh utama tersebut kelak akan meninggal, fakta ini sebenarnya sudah tak terlalu mengejutkan lagi. Entah karena tidak menyadari, karena patuh pada “tradisi”, entah itu karena memang betul-betul tidak memiliki kreativitas sama sekali, skenario Cewe Matrepolis kuyup dengan dua elemen yang selama ini seolah wajib hadir dalam sejarah sinema kita, yaitu kematian dan serbakebetulan. Banyak sekali kebetulan-kebetulan aneh yang sangat mengganggu. Pacar yang ternyata keponakan dari orang yang selama ini menjadi simpanan, bertemu dengan ayah yang sedang kencan dengan perempuan penghibur saat berada di karaoke, atau tiba-tiba melihat gadis yang tengah ditaksir sedang nongkrong bengong di pinggir jalan sesudah bertengkar dengan kekasihnya. Semua kebetulan itu amat mengganggu karena gagal pula mengejutkan kita. Tak ada satupun yang dimanfaatkan untuk membelokkan plot cerita ke arah yang tak terduga-duga. Sebaliknya, mereka hanya dipakai untuk memancing reaksi penonton dengan cara konvensional, yang malah membuat Jakarta seakan-akan hanya seluas satu RW—berada di manapun, kita selalu bertemu orang-orang yang kita kenal! Cewe Matrepolis memang termasuk film yang gagal bukan karena faktor-faktor sinematografisnya. Biarpun sama sekali tak dikenal, Effi Zen cukup mampu menyuguhkan kualitas tontonan standar yang tak bagus namun tak remuk juga. Kelemahan paling menyolok, seperti film-film masa kini lainnya, kembali menjadi tanggung jawab screenplay alias skenario. Tak ada cerita yang menggugah dan memberi inspirasi, tak ada konklusi, tak ada pesan moral, tak ada karakterisasi yang bernas, dan tak ada memorable quotes yang berharga kecuali “friends are sucks, but friends are forever”. Itupun mungkin diambil sang penulis skenario dari kartu-kartu ucapan buatan Hallmark! Nah, kini tibalah kita pada pertanyaan puncak yang menentukan: siapa gerangan sang screenwriter “jempolan” tersebut? Yap, dia tak lain tak bukan adalah Angie, salah satu dari tiga pemeran utama film Virgin besutan Hanny R Saputra yang pernah menghebohkan dunia itu, selain Laudya Chyntia Bella dan Ardina Rasti. Ia melakukan ekspansi profesi dari aktris menuju penulis skenario. Menurut penuturan Angie sebagaimana dikutip situs Indosinema, ia melakukan survey dan observasi selama enam bulan dalam penggarapan skenario Cewe Matrepolis. Namun melihat hasilnya, satu-satunya observasi yang dilakukan Angie pasti hanyalah sekadar menjalani kehidupan rutinnya sehari-hari. Karena, sebagaimana yang selama ini kita lihat lewat acara-acara infotainment, lingkup kelas jet set para seleb selalu identik dengan uang, pendewaan harta, perselingkuhan, wanita simpanan laki-laki kaya, cinta yang terlalu mudah datang dan pergi, serta akhirnya… kematian! (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 11 Juni 2006)
(** out of *****) Di dunia fana ini, tidak ada yang lebih buruk ketimbang sebuah film romance yang tidak bikin kita melankolis, film komedi yang tidak membuat kita tertawa, dan film horor yang tidak menakutkan. Ketika ini terjadi, kita semua berhak untuk meninggalkan gedung bioskop jauh sebelum pertunjukan berakhir. Lentera Merah (LM) besutan sutradara terbaik FFI 2005, Hanung Bramantyo, masuk ke dalam daftar itu. Sebagai sebuah film horor, ia gagal menakut-nakuti penonton karena gagal pula memberi unsur terpenting yang harus ada dalam sebuah film horor, yaitu kejutan. Bukan sembarang kejutan, melainkan kejutan yang orisinal dan baru. LM sendiri adalah nama majalah kampus Universitas Nasional Indonesia (UNI). Majalah tersebut mempunyai tulisan-tulisan yang tajam dan kritis dalam menyikapi kondisi terkini, baik intern kampus UNI maupun pemerintahan negara. Tak hanya itu, LM juga merupakan salah satu media penggerak kemerdekaan Indonesia. Di lingkup kampus UNI, LM merupakan UKM yang paling eksklusif dan prestisius. Bisa menjadi personel LM dianggap sebagai suatu kebanggaan tersendiri bagi para mahasiswa UNI. Tak heran proses seleksi untuk masuk menjadi bagian LM sama ketat dengan rangkaian eliminasi di AFI ataupun Indonesian Idol. Ada babak pendahuluan, babak 10 besar, dan terakhir babak 5 besar sebagai Grand Final. Terpilih masuk 5 besar seleksi anggota baru untuk kru redaksi LM tahun 2006 yang merupakan angkatan ke-50 adalah Risa (Laudya Chyntia Bella), Riki (Tesadesrada Ryza), Lia (Beauty Oehmke), Muti (Auxilia Paramitha), dan Yoga (Zaenal Arifin). Sebelum resmi dilantik menjadi kru LM, mereka berlima harus menjalani tradisi malam inisiasi yang dinamai Malam Lentera. Proses rekrutmen angkatan ke-50 dipimpin oleh Pemimpin Redaksi LM Iqbal Abdinegara (Dimas Beck). Ia dikawal oleh wapemred Wulandari (Firrina), dua editor senior Dinda (Kartika Indah Pelapory) dan Rio (Fikri Ramadhan), serta dua editor foto Bayu (Saputra) dan Arif (Teuku Wisnu). Sejak jauh-jauh hari sebelum Malam Lentera berlangsung, rangkaian seleksi angkatan ke-50 telah diganggu oleh kemunculan makhluk misterius yang selalu menenteng-nenteng lentera berwarna merah ke mana-mana. Kemunculannya selalu diiringi alunan lagu Dewi Puspa dari piringan hitam. Dan setiap kali ia muncul, korban jiwa selalu jatuh. Korban pertama adalah Bayu. Ia mati misterius di kantor LM. Sesudah itu menyusul Wulan, yang gantung diri di perpustakaan sesudah diskors dari jabatan wapemred karena tulisannya yang ternyata menjiplak tulisan lain ketahuan oleh Risa. Kemudian, satu demi satu nyawa kru senior melayang dibantai hantu yang sama pada pelaksanaan Malam Lentera. Pada setiap peristiwa pembunuhan, sang hantu selalu meninggalkan tanda berupa angka "65" dan juga kalimat “Kebenaran harus ditegakkan” yang tak lain adalah motto LM. Kelima calon “akademia” yang tengah menjalani malam inisiasi mencoba membongkar misteri itu. Dan ketika berbekal petunjuk angka 65 mereka membuka file kru LM dari tahun 1965, mereka menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Salah seorang di antara mereka ternyata bukan manusia. Dialah sang hantu pembawa lentera, mahasiswa UNI angkatan tahun 1965 yang mati dibunuh karena dianggap prokomunis. Ia muncul kembali 41 tahun kemudian untuk membalas dendam pada seluruh kru LM persis saat Malam Lentera diadakan pada tanggal 20 Juni 2006. Siapakah dia? Tentu saja tidak akan diungkap di sini agar setidak-tidaknya masih ada satu daya tarik LM yang membuatnya masih tetap berharga untuk ditonton. Kegagalan Hanung lewat LM berada pada ketidakmampuannya menyuguhkan kebaruan dan orisinalitas. Benar bahwa sebagian penonton menjerit ketakutan saat sang hantu pembawa lentera keluar menebar ancaman. Namun momen-momen itu tidak benar-benar menakutkan karena kita pernah melihat semuanya pada suatu waktu dulu. Bentuk-bentuk penampakan lelembut dalam LM lebih mirip mosaik dari film-film horor terdahulu yang pernah ada. Ada hantu melintas (baik di latar depan maupun belakang) dan suster kesot dari Tusuk Jelangkung, ada hantu berambut panjang dari The Ring, dan adegan tangan setan saat Dinda terbunuh jelas-jelas sekali bakal mengingatkan kita pada film Idle Hand. Karena semuanya bukan barang baru, Hanung pun sama sekali gagal membuat kita ketakutan. Fakta bahwa salah seorang dari kelima peserta Malam Lentera ternyata hantu tak berhasil pula menyentak, karena skenario yang disusun Hanung bersama Retna Ginatri secara aneh justru malah membelokkan fokus perhatian penonton tepat di titik klimaks yang seharusnya menentukan. Sejak awal, tanda tanya yang melekat di benak kita diarahkan pada proses inisiasi yang disebut Malam Lentera tersebut. Ini terjadi lantaran event itu disebut-sebut dengan penuh emosi, ketegangan, dan penghormatan. Kita pun mengira, semua misteri yang menyelubungi LM bersumber pada Malam Lentera. Mungkin Malam Lentera adalah sebuah malam inisiasi yang kejam, penuh darah, atau berkaitan dengan aliran-aliran sesat yang memakan korban jiwa dan kemudian memicu pembalasan dendam dari dunia lain. Ternyata, malam tersebut hanya berisi permainan teka-teki yang jelas ditiru dari acara reality show The Amazing Race. Ketika kemudian keempat peserta inisiasi menemukan bahwa teman mereka adalah makhluk halus, kita hampir-hampir tidak merasakan keterkejutan atau shock dalam bentuk apapun karena suspens dan unsur thriller yang dibangun oleh skenario tidak berada pada titik itu. Amat lain dengan thriller yang dengan luar biasa dibangun M Night Shyamalan lewat The Sixth Sense. Pada adegan akhir, ketika jatidiri sang tokoh utama sebagai arwah penasaran terkuak, penonton betul-betul merasakan kekagetan yang amat sangat karena sejak awal, tensi cerita memang disusun menaik sedikit demi sedikit pada permasalahan identitas tokoh tersebut. LM juga menjadi satu lagi bukti ketidaksaktian sinema nasional dalam urusan detail. Tak ada detail apapun yang muncul soal sistem operasi serta pernak-pernik kehidupan nyata pers kampus. Para redaktur tak pernah terlihat melakukan wawancara atau menulis artikel. Proses seleksi rekrutmen reporter baru pun tak pernah menyinggung-nyinggung soal teknik reportase, interview, kaidah 5W+1H, atau Piramida Terbalik. Sebagai gantinya, para calon anggota baru malah disuruh menebak satu demi satu petunjuk untuk mencari dan menyalakan beberapa buah lentera kuno tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Secara umum, LM sebenarnya bukanlah sebuah film yang buruk. Ibarat masakan, Hanung hanya kurang menambahkan garam dan merica. Akibatnya, kita hanya merasa kenyang, tapi berikrar tak akan pernah mau kembali ke warung yang sama karena sama sekali tak merasa terhibur… (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 28 Mei 2006)
(** out of *****) Ketika terjadi kecelakaan pesawat, kapal laut, atau kereta api yang menelan puluhan korban jiwa, penyelidikan aparat berwenang sering menyimpulkan satu hal, yaitu human error. Sayang, kesimpulan serupa jarang dialamatkan ke film-film buruk produksi sineas lokal yang belakangan ini beredar di bioskop-bioskop kita. Sebab, ketika sebuah film mengandung begitu banyak kekeliruan yang membuatnya amat nggak nyaman untuk dilihat, kita tentu tidak bisa menyalahkan cuaca buruk atau lampu pengatur lalu lintas yang tidak berfungsi. Semua pada akhirnya akan dan harus kembali ke faktor manusia. Ekskul: Sebuah Ekstrakurikuler adalah sebuah film yang bisa membikin padat dan panjang halaman goofs (kesalahan-kesalahan) bila kelak akan dipublikasikan melalui website IMDb (International Movie Database). Begitu banyak kekeliruan yang hadir sehingga penonton akan jauh lebih asyik mencatat satu demi satu kesalahan yang muncul daripada niat semula membayar Rp 20 ribu untuk mendapatkan hiburan segar. Ekskul mengenalkan kita pada tokoh utamanya, Joshua, seorang remaja bermasalah yang satu-satunya alasan keberadaannya di dunia fana ini hanyalah untuk dijadikan bulan-bulanan orang lain, terutama teman-teman sekolah dan kedua orang tuanya. Tokoh ini dimainkan oleh aktor muda berwajah imut, Ramon Y Tungka. Film dibuka dengan adegan penyanderaan yang dilakukan Joshua di kantor BP sekolahnya. Ia menyandera semua teman yang pernah menindas, menghina, dan melecehkannya. Berbekal sepucuk pistol dengan sebutir peluru, ia menyekap mereka sejak pukul 15.47 WIB sampai malam hari hanya untuk membalas dendam dan menunjukkan bahwa ia bisa berbalik jadi penindas. Lewat adegan-adegan flashback, penonton diberi tahu kejadian-kejadian apa saja yang telah membuat Joshua sedemikian penuh dengan amarah dan dendam kesumat. Ia menjadi sansak hidup anak-anak klub basket, menerima sikap serba sinis dari ibunya, ditinju ayahnya, dan ditertawakan anak-anak lain karena dianggap sakit. Dengan hati dipenuhi dendam, ia kemudian membeli sepucuk pistol dari seorang pedagang senjata gelap dengan harga tak sampai Rp 2 juta. Kemudian, ia menggiring satu-persatu korbannya ke kantor BP dengan memalsukan surat panggilan dari guru BP. Di situlah ia lantas menyandera mereka semua bukan untuk meminta suatu tuntutan tertentu sebagaimana lazimnya sebuah tragedi penyanderaan, melainkan hanya untuk menunjukkan betapa kini ia bisa sangat berkuasa. Pihak kepolisian pun dibikin gempar oleh kejadian yang sangat spektakuler ini. Dipimpin oleh Kapten Margono yang diperankan oleh Indra Brasco, polisi mencoba mengakhiri insiden tersebut. Salah satu upaya mereka adalah dengan membuat markas darurat di sekolah Joshua dengan dinding yang terbuat dari plastik transparan! Kesalahan paling fatal yang dimiliki Ekskul adalah penyebutan pangkat komandan polisi Margono. Kita jadi berkesimpulan, ia mungkin seorang perwira marinir atau Kopassus yang untuk sementara ditugaskan di kepolisian. Atau, para kru Ekskul tidak pernah membaca koran dan menonton acara-acara kriminal di TV sehingga sama sekali tidak tahu bahwa pangkat kapten dalam dinas kepolisian negara kita telah berganti menjadi ajun komisaris polisi sejak kira-kira enam tahun terakhir ini. Goof lain berada pada judul. Menonton sebuah film berjudul Ekskul yang keseluruhan durasinya berkisah tentang drama penyanderaan adalah seperti datang ke stadion Jatidiri dan menyaksikan para pemain PSIS menyanyi, bukannya bermain sepak bola! Ekskul dibesut oleh sutradara Nayato. Ia biasa muncul dengan nama lain Yato Fionuala atau Koya Pagayo. Sebagaimana karya-karyanya terdahulu sejak pertama kali dikenal lewat sinetron serial Pondok Indah 2 sekitar satu dekade lain, Ekskul juga miskin dengan cahaya terang. Nayato memang dikenal dengan ciri khasnya untuk bermain dengan cahaya seminimal mungkin dalam semua film dan sinetron besutannya. Cahaya hanya diarahkan dari satu sudut dalam tiap adegan. Bisa dari atas, bawah, samping kanan, atau samping kiri. Dan hasilnya adalah efek yang mengesankan saat permainan cahaya itu berpadu dengan tekstur wajah para aktor dan aktris. Sayang, dalam Ekskul, permainan yang menarik itu hanya sekadar mengambang di permukaan dan tak pernah menjelma menjadi sesuatu yang lebih substansial. Penyebabnya sangat sepele, yaitu tak ada urgensi yang jelas ditilik dari kondisi cuaca, keadaan ruangan dan pencahayaannya, serta dengan konteks ceritanya, mengapa semua adegan harus dibuat remang-remang gelap seperti itu. Jika cerita Ekskul terjadi di pedesaan yang belum terjamah PLN atau mengambil setting waktu zaman Kerajaan Majapahit ketika pabrik lampu neon masih belum beroperasi, elemen permainan cahaya itu akan menjadi realistis. Sedang dalam Ekskul, Nayato seperti membuat seluruh dunia mati lampu atau tahu-tahu pemerintah menerapkan aturan baru bahwa satu ruangan hanya boleh diterangi satu lampu berkekuatan maksimal 15 watt demi penghematan energi! Substansi juga tak menyentuh logika yang dipakai Joshua sehingga ia memutuskan untuk melakukan penyanderaan tersebut. Kita tahu, di dunia nyata terdapat banyak anak tertindas yang jadi bahan permainan teman-teman sekolahnya. Fakta bahwa hingga kini belum juga ada salah satu dari mereka yang membalas dendam dengan cara menyandera para penindas membuat label “Diilhami dari kejadian nyata” yang dipajang di poster Ekskul membuat film ini kehilangan seluruh legitimasi logisnya. Jika lokasi cerita dipindah dari SMA ke kampus bermasalah seperti STPDN tempat para penghuninya melakukan penindasan secara fisik dengan alasan senioritas, ledakan kemarahan Joshua sangat bisa dipahami. Namun itupun lebih mungkin akan dilakukan dengan pembalasan dendam pribadi, bukan dengan penyanderaan yang sangat high profile sampai-sampai diliput pula oleh Alvin Adam dan acara Showbiz Today! Kalau ada satu pujian yang patut dilayangkan ke Nayato, itu adalah keberaniannya menampilkan elemen baru berupa kisah penyanderaan ke pita seluloid film nasional. Sayang kebaruan itu tidak dibarengi dengan craftmanship yang memadai, sehingga kita pun tidak memperoleh manfaat apapun menerimanya. Dalam salah satu adegan klimaks, saat menumpahkan semua isi hatinya kepada kedua orang tuanya, Joshua berkata, “Selalu ada yang salah. Tidak pernah ada yang benar”. Ia dengan tepat mampu mengungkapkan keseluruhan intisari kualitas film ini. Dialog yang sangat brilian! (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 21 Mei 2006)
(** out of *****) Salah satu kenikmatan terbesar yang kita dapatkan saat menonton film adalah kejutan. Kita menikmati momen-momen ketika kita dikejutkan oleh karakter yang unik, plot yang ganjil, cerita yang baru dan original, atau ending yang tidak terduga-duga. Ketika sebuah film gagal membuat kita terkejut, maka gagal pula misi film tersebut sebagai komoditas dagang. Itulah yang dialami Heart, film teranyar besutan sutradara Hanny R Saputra. Setelah tahun 2004 lalu ia membikin terkaget-kaget semua orang lewat Virgin yang kontroversial itu, kali ini Hanny seperti membuat antitesis dari prestasi terdahulunya sendiri. Heart sama sekali jauh dari kata mengejutkan.Hadir sebagai tokoh-tokoh utama adalah tiga remaja bernama Rachel (Nirina Zubir), Farel (Irwansyah), dan Luna (Acha Septriasa). Rachel dan Farel adalah sepasang sahabat sejak kecil. Ketika dewasa, benih cinta mulai tumbuh, terutama di hati Rachel. Sayang, Farel justru jatuh cinta pada gadis lain. Cinta Farel itu adalah Luna, seorang komikus yang baru saja merilis sebuah manga berjudul Heart. Hidup tenang Rachel pun berakhir ketika Luna hadir. Ia berpura-pura mendukung Farel mendapatkan Luna, padahal dalam hati ia hancur manakala menyadari cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun perjalanan cinta Farel ternyata sama sekali tak mudah. Kesungguhannya diuji saat ia tahu Luna sebenarnya tengah sekarat oleh penyakit pengerasan hati. Hidup Luna hanya tinggal menghitung hari, kecuali bila ia dengan segera mendapatkan transplantasi hati. Tepat pada saat ia dirawat di rumah sakit, Rachel kebetulan juga tengah dirawat di rumah sakit, bahkan ruangan, yang sama. Rachel mengalami luka serius di kaki kirinya gara-gara terjatuh saat ia berlarian di hutan mati dekat kawah. Mengapa ia berlari-lari di hutan mati? Ternyata, ia baru saja melihat Farel berciuman dengan Luna di depan matanya. Dalam keputusasaan, ia tak melihat cara lain untuk melampiaskan rasa frustrasinya selain dengan berlari tak tentu arah. Tapi mengapa harus ke hutan mati di tepian kawah? Hmm… pilihan yang menarik! Yang jelas, luka Rachel demikian parah sehingga sebelah kakinya harus diamputasi. Belakangan, ia tak hanya terpaksa kehilangan kaki, namun juga nyawanya. Dan sebelum meninggal, ia merelakan hatinya untuk dicangkokkan ke tubuh Luna. Dengan demikian ia bisa selamanya bersama-sama dengan Farel karena Luna “membawa” hatinya. Sejak awal, seluruh “rute” cerita Heart sudah ketahuan, karena baik Hanny maupun skenario yang digarap Armantono tak menghadirkan satupun hal baru. Kisah tentang sepasang sahabat sejak kecil yang mengalami konflik antara persahabatan dan cinta gara-gara kehadiran pihak ketiga sudah berkali-kali kita dengar. Film nasional juga sudah terlalu kuyup dengan melodrama percintaan yang harus diselesaikan dengan kematian, rumah sakit, serta adegan wajib ketika pintu ruang periksa terbuka dan keluarga pasien bertanya dengan nada cemas, “Bagaimana, Dokter?”. Dengan cara begini, Hanny pun sama sekali tak tampak seperti seorang pekerja keras, karena ia hanya sekadar menempel-nempelkan deretan hal-hal klise yang sudah terlalu akrab dengan kita selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Ini masih diperparah dengan karakterisasi yang sangat lemah. Baik Rachel, Farel, maupun Luna hadir tanpa dibekali dengan background apapun. Amat tak jelas mereka berasal dari golongan sosial apa, dari keluarga jenis apa, dan dengan aktivitas harian yang seperti apa. Apakah mereka masih sekolah? Kuliah? Bekerja? Atau pengangguran kaya raya? Satu-satunya yang agak jelas hanyalah Luna, yaitu bahwa ia seorang pengarang komik. Sayang ini pun tak tergali maksimal. Kita sama sekali tak menyaksikan pergulatan kreatifnya sebagai seorang komikus dalam menjelajahi kerasnya dunia penerbitan. Alih-alih menggambar komik, Luna justru digambarkan tiap hari sibuk melukis dengan media cat air. Ketiadaan latar belakang karakter yang memadai membuat baik Rachel, Farel, maupun Luna tidak nampak sebagai tokoh-tokoh yang betul-betul eksis di dunia nyata. Mereka hanya sekadar tokoh-tokoh dalam pita seluloid. Sekadar peranti yang diperlukan untuk menggambarkan jalannya lakon yang disusun sang “dalang”. Dan sungguh amat menjengkelkan melihat sekumpulan anak muda yang 100% waktu dan energi mereka tersita hanya untuk mengurusi persoalan cinta. Mungkin hidup mereka sudah amat sempurna, sehingga mereka tak perlu khawatir lagi soal nilai-nilai ujian, harga bensin yang melambung, atau ancaman letusan Gunung Merapi! Gangguan juga datang dari begitu banyak momen yang di-set up khusus hanya untuk memancing reaksi dan emosi penonton, namun sama sekali kehilangan “kontak” dengan kewajaran dunia keseharian kita masing-masing.Acara lunch romantis di tepi kawah diiringi sajian trio musisi live sekilas terkesan cantik dan berkelas. Tapi memikirkan bagaimana cara menyiapkan acara seperti itu pasti akan membuat kita capek duluan. Anda boleh mencobanya dengan mencari jasa angkutan mana yang bersedia mengangkut satu meja makan, dua kursi, dan seperangkat makanan beserta perlengkapannya ke kawah Tangkuban Perahu, Semeru, atau Dieng hanya dalam rangka untuk memikat perhatian seorang gadis! Bicara soal akting, rasanya tak ada apapun yang pantas dikemukakan dalam keseluruhan durasi Heart. Pertama, baik Nirina, Irwansyah, maupun Acha Septriasa memang sama sekali bukan aktris dan aktor watak sejati, jadi wajar jika mereka pun hanya sekadar sanggup untuk menghafal naskah dan meneteskan air mata. Sedang yang kedua, dangkalnya penggambaran karakter yang dihadirkan oleh skenario tidak memungkinkan mereka bertiga memasuki “teritori” watak apapun. Akibatnya, Nirina hanya mampu memberi gambaran tokoh cewek tomboi cukup dengan rambut pendek, baju kasual, atau kegemaran main basket, dan bukan dengan sesuatu yang lebih inner, macam impian, harapan, pendapat, atau prinsip-prinsip hidup. Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa, meski takkan ada yang meragukan kecantikan Acha, namun aktris pendatang baru ini sama sekali tidak memiliki senyuman dan tawa yang menarik. Tiap kali tersenyum atau tertawa, ia selalu tampak seperti tengah menyeringai menahan sakit. Dalam perannya sebagai Luna yang sekarat karena penyakit parah, kekurangannya itu justru membantu. Tapi bagaimana jika kelak ia berperan sebagai remaja yang periang dan jenaka atau putri presiden yang arogan dan harus selalu jaga image dengan senyuman manis? Pada akhirnya, Heart mirip sebuah biro travel yang menawarkan paket perjalanan wisata ke terminal bus. Selain karena semua orang pasti pernah ke sana, bagaimana mungkin tempat semacam itu bisa disebut sebagai sebuah lokasi wisata? (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 14 Mei 2006)
(* out of *****) Apa yang Anda rasakan ketika menyaksikan sebuah film yang memajang Justin Timberlake dan Carmen Electra sebagai pemeran utama dan menampilkan Al Pacino, Meryl Streep, Jack Nicholson, dan Judi Dench cukup hanya sebagai cameo? Sakit? Tidak rela? Terganggu? Atau marah-marah?Perasaan yang sama akan muncul saat Anda menyaksikan D’Girlz Begins (DB), film laga-komedi yang menjadi debut penyutradaraan aktor merangkap presenter Tengku Firmansyah. Ada banyak talenta luar biasa yang hadir, tentu lengkap dengan skill luar biasa mereka dalam berakting, namun mereka muncul dalam kapasitas yang jauh lebih terbatas dari supporting role. Sebagai para tokoh utama justru dipajang nama-nama baru yang amat tidak jelas kapasitas dan curriculum vitae mereka dalam berakting. Alasan pembenarnya, kesempatan berakting tersebut merupakan hadiah bagi para pemenang kontes modelling yang digelar produsen pembalut wanita kenamaan, PT Softex Indonesia. DB sendiri dibuat dengan premis yang pasti akan langsung mengingatkan kita pada serial televisi dan film layar lebar sukses, Charlie’s Angels. Ada tiga gadis cantik nan seksi, ada aktivitas penyamaran, dan ada pula misi rahasia untuk memberantas kawanan penjahat besar. Tokoh sentral DB adalah seorang petugas kepolisian bernama Alexa (Shabrina S). Tentu saja, karena ini film Indonesia, tak perlulah dijelaskan pangkat Alexa dan dari kesatuan mana ia berasal. Apakah satreskrim, antinarkoba, Densus 88 Antiteror, Brimob, Gegana, atau mungkin Satpol PP! Yang jelas, ia menangani kasus-kasus yang sangat beragam, mulai trafficking hingga narkoba. Dikisahkan, polisi (juga tak jelas kepolisian dari tingkatan apa; apakah Mabes Polri, Polda Metro, atau Polsek Petamburan!) tengah kewalahan memburu seorang gembong narkoba yang bernama Ricardo Monte Carlo (Rudy C Wowor). Ricardo menghilang tanpa jejak, dan satu-satunya kunci menuju persembunyiannya adalah mantan orang dekatnya, Ari Ristanto (Nizar Zulmi). Masalahnya, jejak Ari pun ikut-ikutan lenyap. Untuk mengetahui di mana ia berada, kepolisian mencoba mendekati Cassandra alias Cassy (Kirana Larasati), putri Ari. Maka dikirimlah Alexa yang menyamar menjadi mahasiswi untuk mengawasi Cassy yang kuliah di Institut Kesenian Indonesia (IKI). Di kampus, Alexa bertemu dengan dua mahasiswi lain yang segera menjadi teman baiknya. Mereka adalah Nicky (Disa) dan Amanda (Dhena). Bertiga, mereka membentuk sebuah gang yang dinamai Deluxe Girlz. Komitmen mereka adalah, Alexa akan mengajarkan teknik bela diri, Nicky mengajarkan cara dandan anak gaul, dan Amanda mengajarkan cara-cara memainkan turntables di diskotek. Pada saat yang bersamaan, Ricardo mengirimkan seorang pembunuh bayaran bernama Sam Sunyi (Tengku Firmansyah) untuk menculik Cassy demi untuk mendapatkan Ari pula. Sam adalah seorang bandit yang melakukan serentetan pembunuhan dengan penuh gaya namun mati hanya karena batuk! Terdapat pula subplot yang mengisahkan drama percintaan Alexa di kampus. Ia ditaksir Randy (Andhika), mahasiswa paling tampan di IKI. Randy akhirnya tewas di tangan para anak buah Ricardo, suatu “ketentuan” yang memungkinkan Shabrina untuk memeragakan kemampuan akting dramatiknya sebagai Alexa saat menangis meraung-raung meratapi jenazah Randy. DB adalah sebuah film yang akan membuat para pencinta teater dan seni peran dihinggapi semacam rasa penyesalan yang teramat sangat. Menyaksikan para “pakar” seperti Didi Petet, Jajang C Noer, Nizar Zulmi, dan Rachel Maryam memamerkan kemampuan akting masing-masing seharusnya menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan. Sayang ini tak kesampaian karena mereka hanya hadir sekelebatan. Didi bermain sebagai Dekan IKI (maaf, kalau boleh bertanya, sejak kapan sebuah institut memiliki dekan?), Jajang sebagai dosen seni peran, Nizar sebagai Ari, dan Rachel sebagai mahasiswi musuh Alexa yang bernama Melly. Mereka masing-masing tak pernah tampil lebih lama daripada dua adegan. Layar justru didominasi permainan akting Shabrina, Disa, dan Dhena yang tidak lebih baik daripada kemampuan akting para akademia AFI. Mereka bertiga tak lain adalah para pemenang kontes Super Deluxe Girls 2005 yang digelar PT Softex Indonesia. Sebagai hadiah, mereka berhak menjadi pemeran-pemeran utama film buatan perusahaan produsen pembalut wanita tersebut melalui label Softex Heritage Movie. Pada akhirnya, tuduhan penjiplakan Charlie’s Angels itu sama sekali tidak terbukti. Betul Alexa, Nicky, dan Amanda memang membentuk Deluxe Girlz, tapi mereka tak pernah beraksi sebagai satu kesatuan dalam menangani isu utama film ini, yaitu pengejaran terhadap diri Ricardo. Mereka bertindak sebagai tim hanya ketika jalan-jalan di mal dan ngedugem di diskotek. Sejak awal, DB hanya merupakan kisah pribadi Alexa, terlebih karena seluruh durasi film ini tak lain adalah flashback renungannya saat berada di makam Randy. Nicky dan Amanda hadir hanya sebagai pelengkap, sekadar memenuhi “kuota” dari Softex Heritage Movie bahwa pemeran utama harus berjumlah tiga orang. Jika tidak, film ini cukup memajang judul Alexa Begins, dan tak harus membawa-bawa nama D’Girlz. Sebagai sebuah karya perdana, DB adalah suatu hal yang dapat dimasukkan ke dalam kategori tempat para bijak hanya dapat berkomentar “next time better lah…” dengan raut wajah penuh penghiburan. Sang sutradara, Tengku Firmansyah, tak dapat terlalu disalahkan karena ia juga tak disuplai dengan skenario yang memadai.Banyak hal dalam struktur ceritanya yang tak terjelaskan dengan gamblang. Apa kaitan sesungguhnya antara Ari dan Ricardo? Apa yang telah dilakukan Ari sehingga ia diburu oleh polisi dan Ricardo sekaligus? Dengan cara bagaimana polisi akhirnya bisa menemukan markas persembunyian Ricardo? Dan, ini yang paling seru, mengapa penggerebegan terhadap markas gerombolan trafficking di awal film dilakukan oleh aparat berseragam hitam-hitam? Bukankah polisi berseragam hitam tak lain adalah satuan Gegana? Dan bukankah Gegana seharusnya hanya menangani urusan bahan peledak berbahaya? Atau barangkali mereka didandani dengan seragam serba hitam agar mirip kesatuan SWAT dari Amerika? Kisah Sam Sunyi yang “berevolusi” dari tukang semir sepatu jalanan menjadi bandit yang membunuh korban-korbannya dengan style mirip tokoh-tokoh film John Woo pun sama sekali tak terjelaskan. Padahal elemen ini bisa melahirkan satu cerita tersendiri yang, jika didukung skenario yang bagus, bisa menjadi sebuah film yang amat berbobot. D’Girlz Begins akhirnya menjadi sebuah tontonan yang tidak jelas karena tak jelas juga sisi kehidupan mana yang sebenarnya ingin dipotret. Apakah dunia kampus yang serba gaduh dan romantis? Apakah dunia kepolisian yang keras dan penuh disiplin? Atau apakah dunia kriminal yang kejam dan biadab? (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 30 April 2006)
(*** out of *****) Film Indonesia kerap dituding sebagai sebuah dunia yang miskin, tidak saja intensifikasi, tapi juga diversifikasi. Dari tahun ke tahun, tak pernah tersedia cukup banyak pilihan variasi tema buat penonton. Yang hadir selalu saja drama percintaan, drama remaja, dan misteri-klenik. Karena itu ketika film terbaru arahan Rudi Soedjarwo yang berjudul 9 Naga dirilis, harapan baru pun membuncah. Film ini bertutur tentang sebuah dunia (pekerjaan) yang sangat “eksotis” dan hampir-hampir selalu luput dari perhatian orang banyak, yaitu lika-liku para pembunuh bayaran. Dikisahkan tiga orang pembunuh bayaran yang merupakan sahabat dekat sejak kecil. Mereka adalah Marwan (Lukman Sardi), yang dianggap sebagai saudara tertua, dan Donny (Donny Alamsyah) serta Lenny (Fauzi Baadillah). Ketiganya telah menjalani profesi itu selama 13 tahun. Mereka menerima order pembunuhan dari Dipo (Toro Margens), seorang kepala gangster yang berprofesi sebagai manajer sebuah rumah biliar. Sebelum menjalankan order yang pertama, membunuh seorang tokoh penting dengan pisau, Donny mengatakan pada Marwan bahwa ini akan menjadi pembunuhannya yang terakhir. Selanjutnya ia ingin cuti panjang. Namun rencana itu berantakan ketika adiknya butuh uang Rp 10 juta untuk mendaftar kuliah. Donny pun kembali beraksi ketika Marwan mendapatkan order lagi dari Dipo. Kali ini, mereka harus membunuh dua orang tokoh yang tengah bersantap di sebuah warung. Malang, gerak-gerik mereka telah tercium polisi. Ketika baru satu target yang berhasil ditembak jatuh, Marwan cs terlibat kontak senjata dengan polisi. Dan dalam kekalutan, Marwan justru salah menembak Donny yang ia kira polisi. Donny pun tewas sebelum sempat memperoleh honor yang sedianya akan ia berikan pada adiknya. Insiden tragis ini membuat Marwan amat terpukul dan merubah total kepribadiannya. Dari pria sangar yang keras dan dingin, ia menjelma menjadi insan sejati yang penuh dengan kepekaan nurani dan dramatisasi diri serta kata-kata. Ia mulai peduli pada Ajeng (Ajeng Sardi), isterinya, dan anaknya lelaki semata wayang. Ia bahkan mulai berpikir untuk membelikan keluarganya sebuah rumah idaman. Karena tabungannya yang hanya bernilai Rp 2 juta dikatakan “masih agak jauh” oleh petugas sales perumahan yang mematok harga cash Rp 120 juta, ia pun nekat meminta kekurangan honor order pembunuhannya yang terakhir pada Dipo. Sayang Dipo menolak mentah-mentah permintaan itu. Kesal karena ditolak dan dimaki-maki, Marwan menghabisi Dipo dan menguras isi kas Dipo untuk dipakainya membeli rumah buat keluarganya. Lalu ia menjadi pelarian yang terpaksa bersembunyi dari kejaran baik polisi maupun para anak buah Dipo. Ada pula subplot yang melibatkan Lenny dengan dua pengelola warung tuak Batak tempat ia biasa minum. Warung itu milik seorang pria tua Tapanuli yang diperankan aktor kawakan Dorman Borisman dan keponakannya, Rosminah (Desi Floresita). Rupa-rupanya, Lenny menyukai Rosminah tapi tidak tahu bagaimana harus memulai bicara. Secara umum, 9 Naga menampilkan banyak gambaran yang selama ini jarang tersentuh kamera para sineas kita. Film ini berlokasi di gang-gang sempit kelas menengah ke bawah di Jakarta yang sedikit lebih kotor dari kafe, mal, salon, atau kantor-kantor ber-AC yang kerap tampil di film-film Indonesia masa kini, dan sedikit lebih bersih dari gang-gang kumuh pinggir kali yang sering hadir di film-film Garin Nugroho. Ada pula satu adegan komedik yang sangat langka dan menyentuh, yaitu ketika Marwan membawa anaknya ditimbang di posyandu. Terpaksa ia sendiri yang membawanya karena Ajeng lumpuh setelah beberapa tahun yang lalu tertabrak angkot. Marwan yang tak sabaran nekat menerobos antrean dan hendak menyogok para petugas dengan uang Rp 50 ribu agar anaknya bisa mendapatkan dispensasi. Sayang 9 Naga justru gagal total dalam premis yang ditawarkannya sendiri. Dan seperti biasa, kegagalan terbesar yang dialami sebagian besar sineas kita adalah saat mencoba-coba menggambarkan dunia kerja yang berada jauh baik di luar frame pengetahuan mereka maupun di luar perhatian masyarakat awam. Sebagaimana ketika Gunawan Paggaru gagal total saat menampilkan belantara jurnalisme televisi dalam Issue (2004), kali ini Rudi Soedjarwo gagal pula (meski belum total!) saat mencoba bergaul dengan lika-liku kehidupan para pembunuh bayaran. “Pengetahuan baru” soal mereka hanya ada dalam adegan saat Dipo memberi order dan saat Marwan cs dengan rapi melakukan eksekusi. Selanjutnya, 9 Naga lebih sibuk dalam menampilkan kepekaan dan efek-efek dramatis yang terjadi dalam diri Marwan sesudah peristiwa salah tembak itu. Ia jadi kerap terlibat dalam obrolan-obrolan penuh drama baik dengan Ajeng maupun dengan adik almarhum Donny (Marcel Anthony), termasuk saat ia memberikan buku komik 9 Naga yang jadi kegemaran mereka bertiga pada adik Donny. Bicara soal kualitas akting, seperti lazimnya film nasional masa kini, sama sekali tak ada terobosan baru yang fenomenal. Maklum, para aktor dan aktris zaman sekarang kan tidak merupakan hasil pembenihan dari pentas-pentas dan kelompok-kelompok teater, melainkan hasil “audisi” dari berbagai kontes modelling. Penampilan yang berhasil mencuri perhatian tetap saja datang dari para tokoh lama “warisan” dunia film Indonesia pradekade 1900-an, yaitu Toro Margens dan Dorman Borisman. Akting Desi Floresita sebagai Rosminah juga patut diberi nilai tersendiri, terlebih karena ia sama sekali tidak kebagian jatah dialog sepanjang durasi film. Tapi unsur yang relatif selalu hadir dalam sebagian besar judul film kita adalah lubang logika (logic hole). Itu terjadi dalam adegan baku tembak di warung dalam order pembunuhan yang kedua. Pertama, pembunuhan di tempat umum secara terang-terangan dengan menggunakan senjata api jelas akan menjadi sebuah kasus kriminalitas yang amat menggemparkan seluruh Indonesia. Dan kedua, ke mana para polisi saat Marwan tengah sibuk meratapi Donny yang tengah meregang nyawa? Fakta bahwa ia berhasil lolos dari kepungan polisi dan masyarakat sambil menggotong-gotong mayat Donny serta sekaligus masih sempat membuang jenazah itu ke sungai dengan rapi juga amat mengganggu logika. Masih ada lagi satu fakta yang amat pincang di akhir cerita. Jika Marwan bisa menulis sepucuk surat kepada isterinya dengan kata-kata yang begitu puitis dan tertata secara artistik sampai ia bisa menemukan istilah “pulang ke hatimu”, mengapa ia harus merepotkan dirinya sendiri dengan menjadi pembunuh bayaran? Duduk manis saja seharian di depan mesin ketik bekas untuk menulis cerpen, puisi, atau novel pasti akan menghasilkan duit (yang halal) untuk membayar DP cicilan rumah yang ia idam-idamkan. Dan ia pada akhirnya tidak perlu memperlihatkan semua ekspresi dramatis itu pada kita semua… (Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 15 Januari 2006)
Sudah menerbitkan 10 novel, yaitu Kok Jadi Gini?, Waiting 4 Tomorrow, The Rain Within (semua 2005), Rendezvous at 8 (2006), Dunia Dini, Say No to Love (2007), The Sweetest Kickoff (2009), Grasshopper (2010), The Unfunniest Comedy, dan www.gombel.com (keduanya 2011). Juga menjadi trainer menulis di Lini-Kreatif Writing dan Rumah Media plus editor freelance. Intinya, bisa liburan kapan saja!